Minggu, 05 April 2026

Husnul khotimah

Semua terasa cepat.
Bukan seperti berlari—
tapi seperti didorong dari belakang
oleh sesuatu yang tidak bisa ditolak.
Jumat malam, aku masih di Kalimantan.
Sementara di rumah,
bapak sudah dibawa dari Klinik Harsini
ke IGD RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo.
Sabtu pagi, masku datang dari Jakarta.
Sabtu sore, aku tiba—
terlambat beberapa jam
dari rasa tenang yang terakhir.
Tiga hari sebelum Ramadhan.
Di bangsal itu, waktu seperti menggantung.
Tidak maju, tidak mundur—
hanya menunggu sesuatu
yang tidak pernah benar-benar datang.
Dua belas hari.
Dua belas hari melihat bapak
tidak membaik,
tapi juga tidak benar-benar pergi.
Makan lewat selang.
Obat datang berderet—
dua belas macam bubuk,
dua macam cairan,
dan harapan yang terus dipaksa cukup.
Lalu kami diminta pulang.
Di rumah, bapak lupa.
“Pulang… pulang…”
katanya,
padahal ia sudah di rumah.
Malam menjadi panjang.
Tubuhnya bergerak sendiri.
Seperti melawan sesuatu yang tak terlihat.
Aku hanya bisa melihat—
dan merasa kecil.
Kami kembali ke rumah sakit itu.
Aku bercerita panjang.
Jawaban yang datang singkat:
“Sudah tua, Mas… kalau meracau, iya-in saja.”
Di situ aku tahu—
kami harus pergi.
Ke tempat lain.
Ke harapan lain.
Sempat membaik.
Sempat makan lagi.
Aku percaya—
ini titik balik.
Ternyata hanya jeda.
Semua runtuh lagi.
Muntah.
Selang.
Obat.
Harapan yang ditambal berkali-kali.
Sampai akhirnya—
kami berlari ke Moewardi.
Resusitasi.
Tiga jam.
Jantung berhenti.
Nafas ikut pergi.
Lalu kembali.
Lalu berhenti lagi.
Seperti seseorang yang ingin tinggal,
tapi tubuhnya sudah menyerah.
ICU.
Dan di sana—
kami dipanggil masuk.
Aku, masku, dan istrinya berdiri dekat.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan,
selain menggenggam yang tersisa.
“Laa ilaaha illallah…”
kami ucapkan pelan,
berulang…
berharap itu menjadi kalimat terakhirnya.
Kami tidak tahu
apakah beliau mengikutinya.
Tapi kami percaya—
hati lebih dulu sampai
daripada suara.
Di luar itu,
ada keputusan yang harus dibuat.
Jika jantung itu berhenti lagi—
tidak perlu dipacu.
Sudah tiga kali.
Kami tidak ingin bapak
kembali ditarik
ke rasa sakit yang sama.
Kami sepakat.
Bukan karena menyerah.
Tapi karena cinta
tidak selalu berarti menahan.
Kadang—
cinta adalah berani melepas.
Tiga hari.
Lalu…
28 Ramadhan 1447 H.
18 Maret 2026.
Di penghujung Ramadhan itu,
saat manusia sibuk mengejar ampunan,
bapak justru lebih dulu dipanggil pulang.
Tidak ada suara besar.
Tidak ada tanda yang menggetarkan.
Hanya hening—
yang terasa begitu penuh.
Di sisi ranjang itu,
kami sudah tidak lagi meminta bapak untuk bertahan.
Kami hanya berbisik pelan,
mengiringi dengan kalimat yang paling kami jaga:
“Laa ilaaha illallah…”
Dan ketika semuanya benar-benar berhenti,
aku tidak melihat kekalahan di wajah itu.
Yang kulihat justru—
ketenangan
yang tidak bisa dibuat oleh dunia.
Putih.
Bersih.
Ringan.
Seperti seseorang
yang dipanggil dalam keadaan sudah cukup.
Di titik itu aku mengerti,
tidak semua doa berakhir dengan kesembuhan.
Ada yang dijawab dengan cara yang lebih lembut—
dengan pengampunan,
dengan kemudahan,
dengan jalan pulang yang diringankan.
Dan jika benar
kalimat itu sempat beliau simpan—
meski hanya di dalam hati—
maka kami percaya,
bapak tidak pergi sendirian.
Ia pergi dengan nama-Nya.
Dan itu…
lebih dari cukup.
Sejak hari itu,
aku tidak lagi meminta waktu kembali.
Aku hanya berdoa—
semoga setiap Al-Fatihah,
setiap air mata yang jatuh diam-diam,
menjadi cahaya yang terus menemani beliau.
Sampai nanti,
di waktu yang sudah ditentukan,
kami dipertemukan kembali—
di tempat yang tidak lagi mengenal sakit
dan perpisahan.

Kamis, 26 Maret 2026

Surga


Dalam hening yang kini terasa lebih panjang, kami mengenang Almarhum Sularno—seorang Bapak, seorang Pae, dan Mbah Kakung yang kehadirannya begitu berarti dalam setiap langkah hidup kami.
Beliau adalah sosok sederhana, namun hangatnya terasa begitu dalam. Di balik candanya yang ringan, tersimpan kasih sayang yang luas. Tangan beliau tak pernah berat untuk memberi, dan hatinya selalu lapang untuk berbagi.
Bagi cucu-cucunya, beliau adalah Mbah Kakung yang dirindukan—tempat pulang bagi tawa kecil dan pelukan hangat. Bagi kami, anak-anaknya, beliau adalah Pae yang diam-diam menguatkan, yang dengan caranya sendiri mengajarkan arti sabar dan ikhlas.
Beliau mencintai hal-hal sederhana—duduk tenang, memancing, menikmati waktu tanpa banyak kata, namun penuh makna.
Dan di masa-masa terakhirnya, kenangan itu terasa semakin dekat…
Saat kami mendorong kursi roda beliau, menyusuri jalan-jalan kecil, sekadar berjalan santai, bertegur sapa dengan siapa saja yang ditemui, dan melepas penat dari hari-hari yang lebih banyak beliau lalui dalam berbaring, ketika setengah raganya mulai kehilangan tenaga.
Di pagi yang sejuk dan sore yang tenang, kebersamaan itu menjadi begitu berarti.
Langkah yang perlahan itu justru mengajarkan kami arti kebersamaan yang sesungguhnya—bahwa hadir dan menemani adalah bentuk cinta yang paling nyata.
Kini beliau telah berpulang, meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang tak akan hilang oleh waktu.
Namanya akan terus kami sebut dalam doa, wajahnya akan selalu kami simpan dalam ingatan, dan kasihnya akan hidup dalam hati kami.
Kami memohon dengan segala kerendahan hati, apabila semasa hidupnya Almarhum memiliki kesalahan, kiranya dapat dimaafkan.
Mohon doa agar Almarhum diampuni segala dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Hormat kami,
Keluarga Besar Almarhum Sularno

Sumangga gusti 


Minggu, 25 Juni 2023

hampa


Karya: Chairil Anwar

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.

Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Sabtu, 06 Maret 2021

Gurem

Sekali lirik puisi satu bait 
Wajah penuh prosa 
Menjelma kata
Nun jauh disana 
Senyumannya hmmmm pohon rindang tepi sawah
Gigi putih bersih tanpa cela 
Hidungnya rapi ukiran berseni
Pipinya air terjun 1 banding 4 bening memercik pelangi
Matanya ranum bunga sepatu mekar basah embun dan segar 
Keningnya sabana tanpa fauna
Rambutnya ombak pantai selatan 
Gilaa 
Tuhan maha karya
Jauh sekali disana
 


Senin, 01 Maret 2021

goblok

 bayangkan sebutir beras jatuh di lubang hidungmu tersedot dalam tarikan nafas kencangmu menacap di kerongkongan hingga kau tersedak dan mati. atau sebakul beras sehabis masak dari dari dandang di atas tungku tumpah dipunggungmu lengket dan panas, ada seseorang yang bersikeras memendam kenangan dan menyimpannya walaupun itu berarti siksa, ada yang memanggil nama seseorang dengan kencangnya berharap datang padahal yang di panggil udah tiada bukankah itu siksa? jangan kan memanggil membayangkan wajahnya pun seperti siksa lalu entaahlah yg bagiku siksa belum tentu bagimu, yang bagimu siksa belum tentu bagiku. dan semoga kita semua setuju siksa adalah guyuran nikmat yang tertunda lalu luka yang dihasilkan dari siksa bukan hanya harus menyembuh tapi harus mengindah dan membarokah, semoga. 

Siksa adalah bau busuk percintaan katamu

Bahkan lebih siksa lagi percintaan busuk yg tanpa bau 

Dan yg paling tersiksa adalah sama sama tak bau apa-apa lalu saling menuduh

Tanpa bukti 

Hanya asumsi 

Mungkin ini, mungkin itu mungkin anu berkeliaran di pikiran 

Sekali lagi hanya asumsi

Lalu sama sama bersedih untuk hal-hal yang tak perlu 

Ingat "kesedihan yg salah adalah sumber masalah"  lalu sama sama mempersalahkan hal-hal yg belum tentu kejadian. Mengungkit ungkit masa lalu yg bahkan sama sekali tak ada hubungannya denganmu tak ada hubungannya dengan saat bersama-sama. 

Jika memang cinta masa depan saling suci. 

Katakan: kamu lahir ketika aku mulai jatuh cinta padamu

Dari lahir kita bersama 

Bukankah mesra kalo kita saling percaya saja

Bukankah semua bisa selesai dengan di jelaskan ? 

Yang masuk akal tapi hati mulai meragu 

Di iyakan sajalah

Berbondong-bondong kalimat itu mendera kepala lalu meledak 

Menjadi kalimat tanya 

Curiga 

Malas menjelaskan hal yang sama 

Pertanyaan pun nyaris sama terus berulang 

Hingga timbul karangan yg keluar konteks 

Lalu 

Saling menyalahkan

Siapa suruh nuduh

Siapa suruh ngarang

Hingga pada suatu ketika 

Buntu

Komunikasi macet 

Yang bertanya sudah tak percaya jawaban 

Yg tertuduh sudah muak menjawab

Diam dan hening 

Suntuk 

Cari pelarian 


Sabtu, 27 Februari 2021

Maaf

 

byaaaak jantung pisang merekah tepat di penglihatan daliman, seperti sedang bertatap-tatapan antara jantung pisang dengan daliman membuat daliman senaang bukan main. daliman yang kesehariannya mendapat tugas ngangsu dari kakeknya terheran, aku takjub melihat jantung pisang yang sudah terbuka tapi baru kali ini melihat prosesnya byaaakk waaah secepat kilat, pertaanda apa ini kenapa jantung pisang itu menunjukannya padaku, jantung pisang yang di desain Tuhan berwarna gelap ungu tua runcing dibawah dan kaku dan rela jatuh setelah memastikan pisang yg di atasnya cukup mandiri buat bertumbuh dengan ikhlas. dan aku melihatnya merekah, peristiwa agung ini aku akan abadikan dan akan ku kenang selamanya, saat nanti aku ketemu Tuhan aku akan mengucapkan terima kasih atas jasa baiknya yang telah mengijinkan aku melihat jantung pisang merekah. 

Teringat Kakek dulu Pernah bercerita sejak jaman nenek moyang percaya melihat jantung pisang merekah adalah sebuah anugerah,santer tersiar legenda jaman dulu di pojok desa tempat daliman tinggal terdapat seorang Peri secantik dian sastro tapi masih di kali 7 yang tinggal di dalam jantung pisang itu selalu telanjang dan orang-orang disana percaya melihat peri telanjang adalah sebuah keberuntungan. maka melihat jantung pisang merekah disana adalah idaman setiap warga dan pada saat kakek sekolah dulu sering dituliskan di kolom cita-cita kelas 1 SR. setelah kejadian itu daliman sekarang menjadi manusia tangguh dan kuat dia yang awalnya sering gugup dan plonga-plongo jika harus berhadapan dengan orang yang bahkan dia kenal dengan sekarang lebih PD karena dia punya juga punya sesuatu walaupun sekali dalam hidup. heleh sepangkat-pangkatnya dia pasti belum pernah melihat proses jantung pisang merekah, ujarnya dalam hati. 

menceburkan ember ke Sumur dengan perlahan memastikan air masuk ke ember dengan baik dan benar dan menariknya dengan penuh pengalaman dan sedikit air tumpah yang kembali ke dasar sumur pyek pyeek mungkin begitulah cara menimba air yang baik dan benar. dalam profesinya sebagai tukang ambil air daliman tak banyak berjumpa orang paling hanya sesekali orang yang ke sumur untuk sekedar numpang buang air di sela-sela pengajian yang kakeknya pimpin itu pun dengan terburu- buru dan daliman yang biasanya hanya menunduk sopan sekarang lebih cekatan dan terampil menghadapi orang, saat ada yang datang untuk buang air silakan pak gratis dan jika sudah selesai dia mengucapkan terima kasih telah menabung di kakus kami. terima kasih kembali saya ikhlas pak jawab salah satu pengunjung kakus. hal itu pun membuat orang-orang yang datang tertawa geli dengan celetuknya. guyonan- guyonan pun bertebaran di kakus. suasana kakus yang menjadi tempat kerja daliman menjadi tidak gamang dan seformal kakus pada umumnya, tentu saja itu akibat daliman yang pernah melihat proses jantung pisang merekah.

 daliman merasa dirinya adalah orang yang sangat di istimewakan sama Tuhan kejadian malam itu telah mengubah hidup daliman sepenuhnya, perempuan yang dari dulu dicintainya tanpa basa-basi langsung dia lamar dan di iyakan oleh pasangan bahkan orang tuanya, dan tanpa pikir panjang dia buka usaha dengan berjualan buah pisang dari kebunnya setelah berfikir untuk menghidupi keluarganya, hidupnya berjalan lebih asyik dari sebelumnya mengindah bahkan mungkin barokah.

sekarang daliman sudah menikah dan hari-harinya dii penuhi keberuntungan dan kebahagiaan, anaknya 5 berprestasi dan usahanya lancar jaya ber hektar-hektar tanah kebun pisang sudah di kuasainya,santunan anak yatim tiap minggu dilakukan jantung pisang benar-benar telah merubah hidupnya hingga sangking beruntungnya daliman pernah diundang untuk menjadi motivator dalam bidang usaha daliman yang hanya lulusan SD ujung kampung dapat mengisi seminar akademik sebuah kampus ternama dengan bahasa seadanya karena memang yang ia percaya Kalo orang sudah sukses kelakarnya saja seperti sebuah filsafat. namanya kian moncer dimana- mana.

kehidupan yang sempurna hanya dari melihat jantung pisang merekah penuh canda tawa keluarga dan sebagai ayah yang bijaksana tidak terlalu memanjakan anak-anaknya pendidikan yang cukup  agama yang cukup selalu di tanamkan kepada anak-anaknya, daliman juga tak pernah menganggap istrinya adalah malaikat yang tak pernah salah tapi daliman memang lelaki yang jarang bahkan tak pernah marah. keluarga harmonis yang bikin tetangga turut berbahagia dengan hidupnya. hingga pada suatu ketika kakek berkunjung ke rumah di sambut daliman dengan bahagia saat istrinya menyiapkan minum kakek pun berkata sambil berbisik kakek minta maaf ya tentang legenda Jantung pisang Itu, emang kenapa kek?, tanya daliman Heran,. Kakek Ngarang.




Jumat, 19 Februari 2021

Batasan

 seorang anak kecil berlarian dengan polosnya berkata, mama nanti kalo aku ulang tahun bikinin aku nasi kuning yang banyak aku mau perayaan. iya, jawab mamanya sambil tersenyum. nasi kuning memang sudah umum dalam perayaan tapi kenapa nasi kuning ? kata orang jawa dulu nasi kuning melambangkan emas, sebuah gunung emas yang berarti kemakmuran dalam hidup makanya biasa di sajikan dalam bentuk tumpeng. di bali juga nasi kuning dianggap sakral karena menjadi hidangan wajib dalam upacara kuningan. apapun itu ya nasi kuning buatan mama akan menjelma jadi masakan terenak di dunia untuk putriku tercinta. nasi kuning yang bakalan mama buat dari beras pak sukram. tak ada yang tau tempat tinggalnya bahkan petak sawahnya pun seperti dikaburkan dalam ingatan, orang- orang tak peduli, mereka hanya peduli pada beras pak sukram yang mampu membuat keajaiban. pak sukram adalah petani padi yang setiap bulirnya jika di makan seperti mendapatkan tetesan kenikmatan dari surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, bulir yang lembut yang pecaah di mulut yang rasanya tak bisa di temukan di makanan lain di bumi,mungkin pada suatu masa beras pak sukram akan menjadi penemuan yg di catat dalam buku guines worl record karena rekor kenikmatannya. 


mama berpikir keras di ranjang kemana harus mencari pak sukram? mama teringat tentang sebuah sindikat pencarian orang yang dia kenal bisa menemukan apa saja, sindikat rahasia yg hanya orang tertentu saja dapat mengenalnya, karena mama memang orang dalam istana jadi bisa bertemu siapa saja, mereka melacak keberadaan sukram dengan alatt canggih berbentuk seperti mata orang mengantuk yang tebal dan berlayar LCD layar sentuh di tengah dan runcing di kedua ujungnya cukup tuliskan nama seperti biasa alat itu akan menemukan titik koordinat dimana target berada, sukram nama di ketik dan loading....... 113 2' 51,288" Bujur Timur, 8 14' 7,3284" Lintang(LU/LS)  mama pun menuju titik tersebut dengan secepat kilat sampai di depan gang rumah pak sukram, permisi tok tok tok ! iyaa terdengar sahut dari dalam rumah dengan segera membukakan pintu, apakah ini benar dengan pak Sukram? iya benar jawabnya lalu mama pun terbangun dari tidurnya, belum sempat mengumpat Adzan subuh sudah ditelinga dan mama pun bergegas menuju kenyataan.

pagi tiba mama memimpin rapat bersama para pimpinan Sindikat Pencarian Sukram yang berjumlah 10 orang yang namanya terdaftar dalam pemimpin penting negara mereka semua adalah orang orang terbaik di bidangnya. gampang saja bu saya punya alat canggih yg sanggup mendeteksi hanya dari nama kita tahu dimana titik koordinatnya ijinkan saya mencobanya dulu dan mudah mudahan rapat ini selesai ujar salah satu peserta  rapat, "Sukram" nama di ketik namun tak ada hasil koordinat bla-bla-bla yg muncul, sudah lah buang saja alatmu mungkin alat itu cuma bekerja dalam mimpi! umpat mama kesal. rapat pun dilanjutkan diskusi hangat terjadi antara para pimpinan kita bikin surat saja kita utus para dubes di berbagai negara untuk menyurati Pemimpin di negara tersebut untuk menemukan Sukram diharapkan dengan hubungan baik kita mereka juga akan membentuk Satgas Pencari Sukram tapi sebelum itu kita harus ijin Presiden terlebih dahulu, dan kita pasang baliho- baliho serta iklan-iklan di seluruh dunia agar masyarakat turut serta untuk mencarinya. kita selipkan iklan di ajang miss universe sewaktu kontes bikini yang dalam waktu dekat ini di adakan pasti semua mata menuju kesana.kita ke dukun yang paling ampuh untuk mencarinya dan tak lupa sampaikan juga kepada para pemuka agama agar terus berdoa agar misi kita lancar ingat ya semua aku butuh Sukram 2 minggu lagi rapat pun ditutup setelah 5 jam dan pencarian dimulai.

3 hari berselang dunia gempar mencari nama sukram ada apa dengan sukram kenapa namanya muncul di kontes kecantikan kenapa baliho pengen ketemu sukram. sukram menjadi trending topic di seluruh dunia mengalahkan pelakor yang baru baru ini panas di medsos dan hilang dalam sekejap mata  ketutup dengan berita sukram, sebab orang pasti punya aib bedanya ada yg dibuka sama Tuhan ada yang belum.bayi-bayi yang lahir saat itu banyak yang di beri nama sukram ada yang repot repot ke kecamatan untuk mengganti namanya menjadi sukram agar dapat dipanggil pemimpin negara dan menjadi wakil sukram buat negaranya ada yang dari teknokrat ada dari owner perusahaan bahkan kepala jawatan berganti nama sukram, tapi semua gugur dalam seleksi sebab hanya Tim Sindikat Pencari Sukram lah yang tahu bahwa sukram adalah seorang petani padi. walaupun gugur dalam seleksi orang-orang memanfaatkannya buat maju di kancah politik dengan mendaftarkan diri sebagai caleg dll karena sudah merasa punya nama yang di elu-elukan di seluruh dunia. 

hari demi hari berlalu seperti sebuah bola salju menggelinding dari atas bukit nama sukram palsu merebak bagai virus yang susah sekali di bendung. hingga  muncul sebuah peraturan bahwa setiap orang yang hanya mengaku bernama sukram akan mendapatkan sanksi di pengadilan internasional yang sudah terlanjur memiliki nama itu pun harus di sumpah agar mempergunakan namanya dengan baik dan benar. walaupun di warnai aksi damai para pendukung nama sukram yang berjumlah jutaan orang  peraturan tersebeut tetap inkrah dan bersifat Final dan mengikat setelah ketok palu dan tidak bisa melakukan banding atau Peninjauan Kembali. 

hari hari berlalu segala upaya di lakukan laporan dukun di terima dicari dan nihil hasilnya, laporan dari para pimpinan sindikat pun tak banyak membantu, orang-orang banyak mencari dimana keberadaanya  sampai-sampai ada yang bertanya apa pak sukram itu malaikat ? mama yang murung singgah di sebuah tempat ibadah tua yang sudah reot untuk melakukan kewajibannya di sela-sela pencariannya dan bertemu seorang kakek tua yang berjalan menunduk dengan langkah tertatih di sela tangisannya kakek pun bergumam "bahkan Tuhan saja tak memaksakan ajaran Nya" mama menunduk dengan nafas yang tersengal-sengal.

Senin, 08 Februari 2021

ratna mutu manikam

Hidup dipaksa berjalan maju oleh waktu, dan aku ingin mundur, walau mengulang kesedihan itu sekali lagi. 

Tidak ada daun jatuh kecuali kehendak Tuhan semua kejadian berlalu begitu cepat aku sekarang tersadar jalani hidup dengan biasa saja dengan semestinya rendahkan tingkat bahagia.

Tidak boleh murung tidak boleh berjalan seperti orang mengantuk, tidak boleh mengutuk, biasa saja sederhana saja hidup dihutan dengan celana kulit kayu saja. Ga usah tau apa apa ga usah ingin apa apa ga usah inginkan surga. Biar itu jadi urusan Tuhan. 

Tukang cukur dengan wajah mengantuk memotong rambutku bertanya "sepatu yg no. 2 atau 3 nih?" 2 aja pak . Jawabku 
Sepatu pisau cukur merupakan hal baru buatku dan beliau menanyakan itu kujawab sekenaku. Semoga saja itu jawaban Tuhan. 
Sungguh pun aku tak tahu apa tukang cukur itu sadar bahwa aku baru pertama kesitu. 

Kalkulator di depanku menggelitik mataku dan aku masih tak berniat menggunakannya. Kalkulator bagiku hanya penting di padang mahsyar. Di dunia ini kita bisa menghitung apa ? Untuk serendahnya tingkat bahagia  cukup dihitung dengan jari untuk pemikiran sederhana cukup dengan bergumam dalam hati. Tak perlu rumus yg menye menye dalam hidup. Lalu timbul pertanyaan, apakah dengan seperti itu peradaban akan berkembang ? 
Orang orang sederhana tak memikirkan itu. 
Toh peradaban berkembang alam juga mundur ? 
Peradaban itu apa ? 
Memang harus peradaban berkembang ? 
Apakah dengan peradaban berkembang bukti manusia semakin maju ? 
Maju itu apa ?
Orang orang sederhana bertanya perihal sederhana. Dengan pemikiran sederhana bahkan cinta yg sederhana. 

Dan kalimat yg sederhana untukmu
"Selamat menikah bahagiakan suamimu bahagiakan hidupmu" 

Sehat selalu 


Selasa, 17 Maret 2020

Hai juga

Selamat malam nduk 
Selamat berbahagia, akupun Tak apa, walau kita mungkin tak bisa bertukar peluk tapi selalu ada sesuatu yg bisa ditukar seperti bertukar surat undangan mungkin. Hehehe
Aku ingin mengabarkan Perempuan yg jaraknya selemparan batu dari rumahku di solo sudah aku lamar. Sekarang aku hanya menunggu tanggal. "Kita bisa merencanakan menikah dengan siapa tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa" kata mbah sujiwo tedjo mungkin itu kata yg tepat untuk saat ini dan perihal rindu ataupun cinta kadang memang tak sesuai realita 
"Ah cinta mungkin bukan perjalanan ia juga tak berjarak, tapi padamu ia tak jua bisa sampai" :hasan aspahani

Aku hanya bisa mensyukuri apapun yg terjadi saat ini. 
Baca ini deh puisi dari umbu landu 

Seremoni
dengan mata pena kugali gali seluruh diriku
dengan helai helai kertas kututup nganga luka lukaku
kupancing udara di dalam dengan angin di tanganku
begitulah, kutulis nyawaMu senyawa dengan nyawaku.
1978

Terima kasih udah selalu berbahagia. 
Yang baik ya nduk 


Sabtu, 09 Maret 2019

Hari Pertama Sekolah JokPin

HARI PERTAMA SEKOLAH - Joko Pinurbo

Hari pertama sekolah aku langsung

berkelahi dengan teman sekelasku.

Dia tanya apa cita-citaku.
 
Aku jawab, “Aku ingin menjadi kenangan.”

Dia bilang aku goblok sekali karena seharusnya cita-citaku menjadi presiden.

Aku bilang, “Kamu goblok dua kali.”

2016

Selasa, 05 Maret 2019

Tentang PNS

selamat malam nduk
trima kasih sudah menulis lagi 
tentang PNS aku udah buat draftnya lho 2 tahun yang lalu dan ga pernah aku publish karena mbah tedjo sering bilang "cita-citamu PNS?"hahaha 
memang bener kata butet kartaredjasa "Urip mung mampir ngguyu"

njenengan iku lho nduk kalo ke jakarta mbok ya bilang walau mungkin ga ketemuan aku bisa wakilkan teman untuk sekedar mlengos di sekitarmu, untuk sekedar menikmati suasana dimana jakarta dengan kehadiranmu. seperti kisah umbu landu paranggi yang rela ngebis jogja malang hanya untuk lewat depan rumah perempuan yang di kasihinya lalu nyegat bis lagi dan pulang ke jogja. kisah cinta seorang wali puisi yg suci yg sakral cukup dengan meyusuri jalanan depan rumahnya saja sudah bahagia, apalagi ketemu apalagi ini apalagi itu apalagi anu. 

aku membayangkan kamu jalan lewat depan kampus dengan hati berdebar sambil malu-malu takut ketahuan trus jalan lagi menikmati keakraban jalan yang tiap hari kulalui, apa level cintamu sudah sekelas umbu ? jika memang begitu betapa beruntungnya aku nduuuk

Sekali lagi aku pinjam kata butet Urip mung mampir ngguyu hahaha

sekarang aku lagi seneng baca puisi ini nduk tolong dibaca walau puisi lama mungkin bisa mewakili kita 

Puisi: Mahakam – Korrie Layun Rampan (1953-2015)
Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?
Ia kah itu pelancong tak bernama. Menyusur semenanjung tenggara
istirah di sini. Menawarkan senja dalam desau prahara
setelah lelah mengedangkan jaring nasib melawan bencana
Siapakah masih mengaliri aku, o, sungai derita
rakit-rakit sarat biduk-biduk dan tongkang, detak jantung luka
memeram musim memberat mengimpikan birahi pada palungnya
Ia kah itu yang menggedor pintu dan jendela
malam-malam begiti. Dukakah itu duka dunia
menyusur sungaiku yang terus mengaliri dasar jiwa
Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?
Sumber: Suara Kesunyian (Budaya Jaya, Jakarta, 1981)
 aku bersyukur kamu sudah lulus 
aku bersyukur kamu sudah jadi PNS 
Aku bersyukur kamu sudah punya menteri 
dan aku bersyukur level cintamu sudah sekelas umbu landu....
Padaku.




Jumat, 29 Juni 2018

Waasalamualaikum

Nduk semuanya telah usai, aku sudah mantap dengan pilihanku, aku sudah kenalin perempuan itu pada ibuku dan beliau setuju, aku dan dia sudah sekian lama bersama tak ada pun satu puisi untuknya salutku pada perempuan itu bisa-bisanya lho tetap bertahan sama aku setelah tak kutemui sekian lama tak kuhubungi entah berapa waktu. Dia bilang dia menungguku setelah aku berselingkuh dengan beberapa perempuan dia tetap setia menungguku. Aku juga pernah bilang padanya "kalo kamu dideketin seseorang dan kamu suka kamu bilang saja, tak dukung!  Toh percuma saja nungguin aku yg ga jelas tujuannya kemana" . Sudah beberapa lelaki datang dengan segala cobanya untuk menyerahkan cintaku padanya mas tapi aku ga suka, sudah jgn ngomong yg aneh-aneh jalani saja sampai kamu punya tujuan, jawabnya. Dan aku jawab pula  owalah nduk-nduk kamu ini bodoh atau apa ko mau-maunya sama orang dengan wajah dan hati yg lebih asu dari bajingan ini tapi hanya dalam hati sambilr ngisep rokok.

Di pertemuan sore itu rasaku kian mantap hatiku kian hangat sambil terus omong kosong ini itu dia menyuruhku buka baju, selembar kaos yg sedianya jadi satu satunya pelindung tubuhku pun tanggal dia tarik tanganku mengusap usapkan lulur putih kasap di tangan dada dan punggungku sambil bicara badan apa tembok kamar mandi bisa lumuten kaya gini, aku di servis habis sampai buka baju yg pikirku awal tadi mau aneh aneh tapi pikiran itu sirna "dasar lelaki dipancing dikit aja sudah pgn macem macem, pekok pekok umpatku pada diriku. Sampai merem melek aku ngantuk diusek usek badanku dengan entah apa namanya lulur yg udah mengering perlu di usek usek mpe bersih dan dakinya ikut kebuang. mungkin sejatinya begitulah kita yg melumut menunggu padam dan hilang kita harus punya lulur!

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dan setabah hujan hujan bulan juni kata sapardi. Aku ingin mencintaimu dengan membabi buta kata saut. Aku ingin mencintaimu seperti maria yg menjahit celana isa dan dibawanya kesurga kata jokpin. Aku ingin mencintaimu seperti rahwana yg menculik sinta hingga sinta betah diculik kata sujiwo. Aku ingin mencintaimu dengan selalu mendoakan keselamatanmu kata agus noor.  dan didunia ini ada dua tipe perempuan yg pertama yg layak dijadikan istri yg kedua perempuan yg hanya bisa jadi puisi kata wira wahyu utama

Toples kacang mematung rokok bengong asbak luber berantakan kopi makin malam makin pait malam makin malam makin ramai ingatan. Dan akhirnya lulur menghapus semua. Cinta adalah perhatian Tuhan dengan caranya, Tuhan mengecup keningku lewat perempuan itu. Aku meradang haru.

Karena blog ini hanya untukmu aku tak kan banyak menulis untuk perempuan pilihanku. Aku sudahkan blog ini selesaikan semuanya.
Berbahagialah selalu doaku untukmu

Pamit

Sabtu, 11 November 2017

Banyak nanya

tepat pukul 12 malam lubang dilangit langit kamarku terbuka dengan sendirinya seorang perempuan masuk dan bertanya apa hatimu masih ada?  apa boleh aku masuk?  apa ... Ndasmu! bentakku sebelum dia melanjutkan pertanyaannya.

Sabtu, 21 Januari 2017

sekilas mudik



masa depan indonesia ada di belakang di tangan pendahulu kita yang luar biasa, lalu kita belajar untuk menggenggam kembali masa lalu yang gemilang itu. masa yg seimbang masa yang selalu mencari apa yg benar bukan siapa yg benar.
berlibur bersama orang-orang yg hampir menua yg selalu ingat mati bahkan saat berziarah kerap kali merasa yang dikunjungi adalah makamnya sendiri

Minggu, 25 Desember 2016

SEHABIS SUARA GEMURUH

sehabis suara gemuruh itu yang  nampak olehku hanyalah
tubuhmu telanjang dengan rambut terurai
mengapung di permukaan air bening yang mengalir tenang --
tak kau sahut panggilanku

1973
(Sapardi Djoko Darmono)

ri..

Senin, 19 Desember 2016

ini serius!

ternyata tak segampang itu melupakanmu
di setiap pelarianku hanya jalan menujumu, Kekasih
aku berlari kesana- kemari
aku diam aku duduk aku menunduk
lagi-lagi kamu yang kutemu
saat kerja aku melihatmu di laptopku
saat tidur aku melihatmu dimimpiku
saat terbuka mataku aku melihatmu di kelopak mataku
tetapi di setiap bercermin aku tak melihat wajahmu diwajahku
entah kenapa kerumitan ini bisa terjadi
aku mengusirmu, dan jujur saja untuk memintamu kembali aku malu dan pasti kau pun tak mau
setelah menulis itu aku seperti berbicara sendiri di sebuah ruangan kosong
aku pun ragu kamu membaca ini
dan memang ketulusan tak pernah mengharap balasan
begitu rumit cinta ini
aku berdoa agar engkau bahagia disana
tapi jujur saja aku juga ingin bahagia denganmu
aku inginkan kamu tapi takut tak mampu membahagiakanmu
entah kenapa ketakutan ini bisa kembali ke kepalaku
ketakutan inilah yang membisikanku untuk mengusirmu
aku ingin membalas dendam pada ketakutanku yang membuatku semakin jauh darimu
tapi aku kembali takut mengecewakanmu
aku merasa benar-benar kalah pada ketakutanku sendiri
dan saat aku memberanikan diri untuk melawan ketakutanku
fikiranku kembali dikacaukan dengan pertanyaan
apa kamu mau kembali lagi?
kini keraguan yang menghadangku
setelah kembali apakah kita benar-benar bisa serasi dan tak ada yang tersakiti?
ya itupun jika mau kembali
apalagi aku pernah membuat luka  yang pasti belum mengering bekasnya
ketakutan dan keraguan seperti dua tembok beton yang menghadangku
belum masalah jarak
belum masalah waktu
belum masalah suku
belum masalah saku
hadeeh tapi pemikiran ala gudel itu tak membuatku berkembang kayanya, hahahaha
bajingan-bajingan aku malah guyon terus hahaha
sudah cukuplah guyonnya, semua masalah bakal teratasi!
nduk aku masih sayang sama njenengan hayuk balikan!



Minggu, 11 Desember 2016

kawan baruuuu

alhamdulillah kamu bahagia
dan hal yang paliing bikin aku bahagia adalah kebahagiaanmu
kesehatanku membaik
otaku membaik
hatiku baik-baik saja
alhamdulillah Tuhan
aku memberitakan hal hal yang baik kepadamu
karena memang aku baik baik saja
ngopiku juga sekarang makin berani
aku ingin memejamkan mimpi
dan tetap terjaga sampe ujung pagi dihadapan puisi
di dalam puisi aku menenggelamkaan rindu yang nyeri
aku juga sudah mulai menjalin hubunngan udah pacaran bahkan
walaupun dia terlalu realis buat hidupku yg abstrak ini
cintanya padaku tak pernah kusangsi
jadi ga ada alasan lagi untuk kita buat baper-baperan
kita teman berbagi puisi
kita teman yg mungkin bisa saling mengisi
sewajarnya kita
kita tau batas kita
aku juga ga mau menyakiti siapapun
follow my ig heuheuheu
aku tahu kamu pernah like trus ga  jadi bahkan mpe dua kali diwaktu yang berbeda lagi
kita teman tanpa tendensi
ok ri?