Dalam hening yang kini terasa lebih panjang, kami mengenang Almarhum Sularno—seorang Bapak, seorang Pae, dan Mbah Kakung yang kehadirannya begitu berarti dalam setiap langkah hidup kami.
Beliau adalah sosok sederhana, namun hangatnya terasa begitu dalam. Di balik candanya yang ringan, tersimpan kasih sayang yang luas. Tangan beliau tak pernah berat untuk memberi, dan hatinya selalu lapang untuk berbagi.
Bagi cucu-cucunya, beliau adalah Mbah Kakung yang dirindukan—tempat pulang bagi tawa kecil dan pelukan hangat. Bagi kami, anak-anaknya, beliau adalah Pae yang diam-diam menguatkan, yang dengan caranya sendiri mengajarkan arti sabar dan ikhlas.
Beliau mencintai hal-hal sederhana—duduk tenang, memancing, menikmati waktu tanpa banyak kata, namun penuh makna.
Dan di masa-masa terakhirnya, kenangan itu terasa semakin dekat…
Saat kami mendorong kursi roda beliau, menyusuri jalan-jalan kecil, sekadar berjalan santai, bertegur sapa dengan siapa saja yang ditemui, dan melepas penat dari hari-hari yang lebih banyak beliau lalui dalam berbaring, ketika setengah raganya mulai kehilangan tenaga.
Di pagi yang sejuk dan sore yang tenang, kebersamaan itu menjadi begitu berarti.
Langkah yang perlahan itu justru mengajarkan kami arti kebersamaan yang sesungguhnya—bahwa hadir dan menemani adalah bentuk cinta yang paling nyata.
Kini beliau telah berpulang, meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang tak akan hilang oleh waktu.
Namanya akan terus kami sebut dalam doa, wajahnya akan selalu kami simpan dalam ingatan, dan kasihnya akan hidup dalam hati kami.
Kami memohon dengan segala kerendahan hati, apabila semasa hidupnya Almarhum memiliki kesalahan, kiranya dapat dimaafkan.
Mohon doa agar Almarhum diampuni segala dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Hormat kami,
Keluarga Besar Almarhum Sularno
Sumangga gusti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar