Sabtu, 09 Maret 2019

Hari Pertama Sekolah JokPin

HARI PERTAMA SEKOLAH - Joko Pinurbo

Hari pertama sekolah aku langsung

berkelahi dengan teman sekelasku.

Dia tanya apa cita-citaku.
 
Aku jawab, “Aku ingin menjadi kenangan.”

Dia bilang aku goblok sekali karena seharusnya cita-citaku menjadi presiden.

Aku bilang, “Kamu goblok dua kali.”

2016

Selasa, 05 Maret 2019

Tentang PNS

selamat malam nduk
trima kasih sudah menulis lagi 
tentang PNS aku udah buat draftnya lho 2 tahun yang lalu dan ga pernah aku publish karena mbah tedjo sering bilang "cita-citamu PNS?"hahaha 
memang bener kata butet kartaredjasa "Urip mung mampir ngguyu"

njenengan iku lho nduk kalo ke jakarta mbok ya bilang walau mungkin ga ketemuan aku bisa wakilkan teman untuk sekedar mlengos di sekitarmu, untuk sekedar menikmati suasana dimana jakarta dengan kehadiranmu. seperti kisah umbu landu paranggi yang rela ngebis jogja malang hanya untuk lewat depan rumah perempuan yang di kasihinya lalu nyegat bis lagi dan pulang ke jogja. kisah cinta seorang wali puisi yg suci yg sakral cukup dengan meyusuri jalanan depan rumahnya saja sudah bahagia, apalagi ketemu apalagi ini apalagi itu apalagi anu. 

aku membayangkan kamu jalan lewat depan kampus dengan hati berdebar sambil malu-malu takut ketahuan trus jalan lagi menikmati keakraban jalan yang tiap hari kulalui, apa level cintamu sudah sekelas umbu ? jika memang begitu betapa beruntungnya aku nduuuk

Sekali lagi aku pinjam kata butet Urip mung mampir ngguyu hahaha

sekarang aku lagi seneng baca puisi ini nduk tolong dibaca walau puisi lama mungkin bisa mewakili kita 

Puisi: Mahakam – Korrie Layun Rampan (1953-2015)
Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?
Ia kah itu pelancong tak bernama. Menyusur semenanjung tenggara
istirah di sini. Menawarkan senja dalam desau prahara
setelah lelah mengedangkan jaring nasib melawan bencana
Siapakah masih mengaliri aku, o, sungai derita
rakit-rakit sarat biduk-biduk dan tongkang, detak jantung luka
memeram musim memberat mengimpikan birahi pada palungnya
Ia kah itu yang menggedor pintu dan jendela
malam-malam begiti. Dukakah itu duka dunia
menyusur sungaiku yang terus mengaliri dasar jiwa
Siapakah yang pulang dengan langkah masai
menyandang duka Adam yang pertama
mengempang arus sungai, membadung nasibnya?
Sumber: Suara Kesunyian (Budaya Jaya, Jakarta, 1981)
 aku bersyukur kamu sudah lulus 
aku bersyukur kamu sudah jadi PNS 
Aku bersyukur kamu sudah punya menteri 
dan aku bersyukur level cintamu sudah sekelas umbu landu....
Padaku.




Jumat, 29 Juni 2018

Waasalamualaikum

Nduk semuanya telah usai, aku sudah mantap dengan pilihanku, aku sudah kenalin perempuan itu pada ibuku dan beliau setuju, aku dan dia sudah sekian lama bersama tak ada pun satu puisi untuknya salutku pada perempuan itu bisa-bisanya lho tetap bertahan sama aku setelah tak kutemui sekian lama tak kuhubungi entah berapa waktu. Dia bilang dia menungguku setelah aku berselingkuh dengan beberapa perempuan dia tetap setia menungguku. Aku juga pernah bilang padanya "kalo kamu dideketin seseorang dan kamu suka kamu bilang saja, tak dukung!  Toh percuma saja nungguin aku yg ga jelas tujuannya kemana" . Sudah beberapa lelaki datang dengan segala cobanya untuk menyerahkan cintaku padanya mas tapi aku ga suka, sudah jgn ngomong yg aneh-aneh jalani saja sampai kamu punya tujuan, jawabnya. Dan aku jawab pula  owalah nduk-nduk kamu ini bodoh atau apa ko mau-maunya sama orang dengan wajah dan hati yg lebih asu dari bajingan ini tapi hanya dalam hati sambilr ngisep rokok.

Di pertemuan sore itu rasaku kian mantap hatiku kian hangat sambil terus omong kosong ini itu dia menyuruhku buka baju, selembar kaos yg sedianya jadi satu satunya pelindung tubuhku pun tanggal dia tarik tanganku mengusap usapkan lulur putih kasap di tangan dada dan punggungku sambil bicara badan apa tembok kamar mandi bisa lumuten kaya gini, aku di servis habis sampai buka baju yg pikirku awal tadi mau aneh aneh tapi pikiran itu sirna "dasar lelaki dipancing dikit aja sudah pgn macem macem, pekok pekok umpatku pada diriku. Sampai merem melek aku ngantuk diusek usek badanku dengan entah apa namanya lulur yg udah mengering perlu di usek usek mpe bersih dan dakinya ikut kebuang. mungkin sejatinya begitulah kita yg melumut menunggu padam dan hilang kita harus punya lulur!

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dan setabah hujan hujan bulan juni kata sapardi. Aku ingin mencintaimu dengan membabi buta kata saut. Aku ingin mencintaimu seperti maria yg menjahit celana isa dan dibawanya kesurga kata jokpin. Aku ingin mencintaimu seperti rahwana yg menculik sinta hingga sinta betah diculik kata sujiwo. Aku ingin mencintaimu dengan selalu mendoakan keselamatanmu kata agus noor.  dan didunia ini ada dua tipe perempuan yg pertama yg layak dijadikan istri yg kedua perempuan yg hanya bisa jadi puisi kata wira wahyu utama

Toples kacang mematung rokok bengong asbak luber berantakan kopi makin malam makin pait malam makin malam makin ramai ingatan. Dan akhirnya lulur menghapus semua. Cinta adalah perhatian Tuhan dengan caranya, Tuhan mengecup keningku lewat perempuan itu. Aku meradang haru.

Karena blog ini hanya untukmu aku tak kan banyak menulis untuk perempuan pilihanku. Aku sudahkan blog ini selesaikan semuanya.
Berbahagialah selalu doaku untukmu

Pamit

Sabtu, 11 November 2017

Banyak nanya

tepat pukul 12 malam lubang dilangit langit kamarku terbuka dengan sendirinya seorang perempuan masuk dan bertanya apa hatimu masih ada?  apa boleh aku masuk?  apa ... Ndasmu! bentakku sebelum dia melanjutkan pertanyaannya.

Sabtu, 21 Januari 2017

sekilas mudik



masa depan indonesia ada di belakang di tangan pendahulu kita yang luar biasa, lalu kita belajar untuk menggenggam kembali masa lalu yang gemilang itu. masa yg seimbang masa yang selalu mencari apa yg benar bukan siapa yg benar.
berlibur bersama orang-orang yg hampir menua yg selalu ingat mati bahkan saat berziarah kerap kali merasa yang dikunjungi adalah makamnya sendiri

Minggu, 25 Desember 2016

SEHABIS SUARA GEMURUH

sehabis suara gemuruh itu yang  nampak olehku hanyalah
tubuhmu telanjang dengan rambut terurai
mengapung di permukaan air bening yang mengalir tenang --
tak kau sahut panggilanku

1973
(Sapardi Djoko Darmono)

ri..