Minggu, 05 April 2026

Husnul khotimah

Semua terasa cepat.
Bukan seperti berlari—
tapi seperti didorong dari belakang
oleh sesuatu yang tidak bisa ditolak.
Jumat malam, aku masih di Kalimantan.
Sementara di rumah,
bapak sudah dibawa dari Klinik Harsini
ke IGD RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo.
Sabtu pagi, masku datang dari Jakarta.
Sabtu sore, aku tiba—
terlambat beberapa jam
dari rasa tenang yang terakhir.
Tiga hari sebelum Ramadhan.
Di bangsal itu, waktu seperti menggantung.
Tidak maju, tidak mundur—
hanya menunggu sesuatu
yang tidak pernah benar-benar datang.
Dua belas hari.
Dua belas hari melihat bapak
tidak membaik,
tapi juga tidak benar-benar pergi.
Makan lewat selang.
Obat datang berderet—
dua belas macam bubuk,
dua macam cairan,
dan harapan yang terus dipaksa cukup.
Lalu kami diminta pulang.
Di rumah, bapak lupa.
“Pulang… pulang…”
katanya,
padahal ia sudah di rumah.
Malam menjadi panjang.
Tubuhnya bergerak sendiri.
Seperti melawan sesuatu yang tak terlihat.
Aku hanya bisa melihat—
dan merasa kecil.
Kami kembali ke rumah sakit itu.
Aku bercerita panjang.
Jawaban yang datang singkat:
“Sudah tua, Mas… kalau meracau, iya-in saja.”
Di situ aku tahu—
kami harus pergi.
Ke tempat lain.
Ke harapan lain.
Sempat membaik.
Sempat makan lagi.
Aku percaya—
ini titik balik.
Ternyata hanya jeda.
Semua runtuh lagi.
Muntah.
Selang.
Obat.
Harapan yang ditambal berkali-kali.
Sampai akhirnya—
kami berlari ke Moewardi.
Resusitasi.
Tiga jam.
Jantung berhenti.
Nafas ikut pergi.
Lalu kembali.
Lalu berhenti lagi.
Seperti seseorang yang ingin tinggal,
tapi tubuhnya sudah menyerah.
ICU.
Dan di sana—
kami dipanggil masuk.
Aku, masku, dan istrinya berdiri dekat.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan,
selain menggenggam yang tersisa.
“Laa ilaaha illallah…”
kami ucapkan pelan,
berulang…
berharap itu menjadi kalimat terakhirnya.
Kami tidak tahu
apakah beliau mengikutinya.
Tapi kami percaya—
hati lebih dulu sampai
daripada suara.
Di luar itu,
ada keputusan yang harus dibuat.
Jika jantung itu berhenti lagi—
tidak perlu dipacu.
Sudah tiga kali.
Kami tidak ingin bapak
kembali ditarik
ke rasa sakit yang sama.
Kami sepakat.
Bukan karena menyerah.
Tapi karena cinta
tidak selalu berarti menahan.
Kadang—
cinta adalah berani melepas.
Tiga hari.
Lalu…
28 Ramadhan 1447 H.
18 Maret 2026.
Di penghujung Ramadhan itu,
saat manusia sibuk mengejar ampunan,
bapak justru lebih dulu dipanggil pulang.
Tidak ada suara besar.
Tidak ada tanda yang menggetarkan.
Hanya hening—
yang terasa begitu penuh.
Di sisi ranjang itu,
kami sudah tidak lagi meminta bapak untuk bertahan.
Kami hanya berbisik pelan,
mengiringi dengan kalimat yang paling kami jaga:
“Laa ilaaha illallah…”
Dan ketika semuanya benar-benar berhenti,
aku tidak melihat kekalahan di wajah itu.
Yang kulihat justru—
ketenangan
yang tidak bisa dibuat oleh dunia.
Putih.
Bersih.
Ringan.
Seperti seseorang
yang dipanggil dalam keadaan sudah cukup.
Di titik itu aku mengerti,
tidak semua doa berakhir dengan kesembuhan.
Ada yang dijawab dengan cara yang lebih lembut—
dengan pengampunan,
dengan kemudahan,
dengan jalan pulang yang diringankan.
Dan jika benar
kalimat itu sempat beliau simpan—
meski hanya di dalam hati—
maka kami percaya,
bapak tidak pergi sendirian.
Ia pergi dengan nama-Nya.
Dan itu…
lebih dari cukup.
Sejak hari itu,
aku tidak lagi meminta waktu kembali.
Aku hanya berdoa—
semoga setiap Al-Fatihah,
setiap air mata yang jatuh diam-diam,
menjadi cahaya yang terus menemani beliau.
Sampai nanti,
di waktu yang sudah ditentukan,
kami dipertemukan kembali—
di tempat yang tidak lagi mengenal sakit
dan perpisahan.